Perbaikan Pendidikan di Cianjur
Support.- Tingkat pendidikan Kabupaten Cianjur dinilai berada dalam
kategori merah karena partisipasinya yang rendah. Dinas Pendidikan
Kabupaten Cianjur pun disarankan untuk membuat jadwal prioritas
pendidikan. Hal itu bertujuan untuk dapat mengejar target dan
mengentaskan permasalahan pendidikan di Kabupaten Cianjur.
Demikian dikatakan Wakil Bupati Cianjur, Herman Suherman. Menurutnya,
hingga saat ini Kabupaten Cianjur masih memiliki persoalan krusial
dalam bidang pendidikan. Tidak heran, jika partisipasi pendidikan di
Cianjur terbilang rendah.
”Masih banyak masalah yang menjangkiti pendidikan Cianjur, makanya harus ada yang diprioritaskan untuk menyelesaikannya. Perlu ada fokus yang luar biasa,” kata Herman ditemui di kantornya, Kamis 12 Januari 2017.
Ia melanjutkan, rata-rata lama sekolah (RLS) Cianjur yang baru menginjak angka 6,28 mengindikasikan belum banyaknya masyarakat yang mengenyam pendidikan secara maksimal. Dengan kata lain, masyarakat bahkan belum menamatkan pendidikan pada kelas I jenjang menengah pertama.
Persoalan kesadaran, infrastruktur, dan kualitas tenaga pendidik masih menjadi hal utama yang mempengaruhi tingkat pendidikan di Cianjur. Oleh karena itu, diperlukan adanya sinkronisasi data dan program yang akurat terkait pendidikan secara menyeluruh di Cianjur.
Herman mengimbau, dinas terkait dapat segera mendata setiap kecamatan untuk mendapatkan akurasi data, terutama mengenai zona-zona dengan nilai pendidikan yang rendah.
”Semua harus dilakukan berbasis data dan dimulai dari bawah, supaya perbaikannya pun terfokus. Mana zona paling merah yang perlu diperhatikan, maka akan diprioritaskan,” ujarnya.
Pendataan nantinya akan memudahkan pemerintah untuk terjun dan melakukan program, baik sosialisasi pentingnya pendidikan, perbaikan sarana prasarana, maupun kualitas tenaga pendidik.
Pada 2017 ini, perbaikan fasilitas pendidikan akan ditekankan untuk dilakukan secara intensif.
Sarana prasarana yang dibangun atau diperbaiki harus menyeluruh dan mencakup sarana-sarana lain yang relevan, seperti fasilitas kesehatan dan fasum lainnya. Hal itu dimaksudkan, agar infrastruktur yang ada dapat berkesinambungan dan lebih optimal untuk banyak pihak.
Lebih lanjut dikatakan, permasalahan kualitas tenaga pendidik turut menjadi sorotan Herman. Ia menyarankan, perlu ada perhatian khusus terutama pada guru-guru di daerah terpencil. Wilayah selatan Cianjur masih dianggap sebagai kawasan yang rawan kehilangan tenaga pendidik.
Pasalnya, banyak guru di kawasan tersebut yang berusaha untuk pindah ke kawasan Cianjur utara demi akses pendidikan yang lebih baik. ”Makanya, sandang, papan, pangan guru di selatan butuh banyak perhatian khusus. Supaya mereka tetap berkeinginan untuk bertahan dan mengajar di sana (selatan),” ujarnya.
Tunjangan yang berbeda antara kawasan terpencil dan wilayah perkotaan, akses menuju sekolah, alat peraga yang memadai, kebutuhan hidup yang terawasi dinilai menjadi hal yang perlu diprioritaskan pemkab untuk menjaga keseimbangan kualitas dan jumlah tenaga pendidik. Terutama di kawasan terpencil.***
Sumber : PR
”Masih banyak masalah yang menjangkiti pendidikan Cianjur, makanya harus ada yang diprioritaskan untuk menyelesaikannya. Perlu ada fokus yang luar biasa,” kata Herman ditemui di kantornya, Kamis 12 Januari 2017.
Ia melanjutkan, rata-rata lama sekolah (RLS) Cianjur yang baru menginjak angka 6,28 mengindikasikan belum banyaknya masyarakat yang mengenyam pendidikan secara maksimal. Dengan kata lain, masyarakat bahkan belum menamatkan pendidikan pada kelas I jenjang menengah pertama.
Persoalan kesadaran, infrastruktur, dan kualitas tenaga pendidik masih menjadi hal utama yang mempengaruhi tingkat pendidikan di Cianjur. Oleh karena itu, diperlukan adanya sinkronisasi data dan program yang akurat terkait pendidikan secara menyeluruh di Cianjur.
Herman mengimbau, dinas terkait dapat segera mendata setiap kecamatan untuk mendapatkan akurasi data, terutama mengenai zona-zona dengan nilai pendidikan yang rendah.
”Semua harus dilakukan berbasis data dan dimulai dari bawah, supaya perbaikannya pun terfokus. Mana zona paling merah yang perlu diperhatikan, maka akan diprioritaskan,” ujarnya.
Pendataan nantinya akan memudahkan pemerintah untuk terjun dan melakukan program, baik sosialisasi pentingnya pendidikan, perbaikan sarana prasarana, maupun kualitas tenaga pendidik.
Pada 2017 ini, perbaikan fasilitas pendidikan akan ditekankan untuk dilakukan secara intensif.
Sarana prasarana yang dibangun atau diperbaiki harus menyeluruh dan mencakup sarana-sarana lain yang relevan, seperti fasilitas kesehatan dan fasum lainnya. Hal itu dimaksudkan, agar infrastruktur yang ada dapat berkesinambungan dan lebih optimal untuk banyak pihak.
Lebih lanjut dikatakan, permasalahan kualitas tenaga pendidik turut menjadi sorotan Herman. Ia menyarankan, perlu ada perhatian khusus terutama pada guru-guru di daerah terpencil. Wilayah selatan Cianjur masih dianggap sebagai kawasan yang rawan kehilangan tenaga pendidik.
Pasalnya, banyak guru di kawasan tersebut yang berusaha untuk pindah ke kawasan Cianjur utara demi akses pendidikan yang lebih baik. ”Makanya, sandang, papan, pangan guru di selatan butuh banyak perhatian khusus. Supaya mereka tetap berkeinginan untuk bertahan dan mengajar di sana (selatan),” ujarnya.
Tunjangan yang berbeda antara kawasan terpencil dan wilayah perkotaan, akses menuju sekolah, alat peraga yang memadai, kebutuhan hidup yang terawasi dinilai menjadi hal yang perlu diprioritaskan pemkab untuk menjaga keseimbangan kualitas dan jumlah tenaga pendidik. Terutama di kawasan terpencil.***
Sumber : PR

